"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gereja Teraniaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Teraniaya. Tampilkan semua postingan

IRAN: Pelayan Tuhan dipenjara, para tahanan bertobat

Written By Menara Penjaga on Selasa, 24 September 2013 | 22:29

Pastor Saeed Abedini bersama keluarga (foto: nydailynews)
IRAN, Teheran (MP) -- Setahun ditahan di Penjara Evin di Iran, Pastor Saeed Abedini diberitakan telah membawa lebih dari 30 orang mengenal Yesus Kristus (Isa al-Masih). 

Hal ini diungkapkan oleh Naghmeh Abedini, sang isteri, ketika menjadi pembicara di sebuah pertemuan di Liberty University, Amerika Serikat. 

"Mereka banyak kali telah mengatakan padanya bahwa mereka akan membebaskannya dan mengijinkannya kembali pada keluarga kami, dengan anak-anak dan saya, jika ia menyangkal iman Kristennya, [namun] ia tetap teguh berdiri di penjara itu," demikian ungkap sang isteri seperti dilaporkan theblaze.com. 

Pastor Saeed menjadi Kristen tahun 2000 lalu dan menjadi salah satu tokoh kebangunan gereja di Iran. Pernikahannya dengan Naghmeh yang berkewarganegaraan AS memberikannya kesempatan untuk memiliki dual-citizenship, Iran dan AS. Saat ini mereka telah dikaruniakan dua orang anak. 

Pastor Saeed ditahan di pertengahan 2012 lalu sementara berupaya membangun sebuah panti asuhan. Ia dituduh pemerintah Republik Islam Iran membahayakan keamanan nasional. Pada persidangan di awal 2013 ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.

Dalam sebuah surat yang dikirimkan Pastor Saeed kepada isterinya di permulaan tahun ia mengungkapkan tentang penganiayaan mental dan fisik yang harus dialaminya dalam tahanan, termasuk tidak diijinkan berobat. 

"Bagi saya mengetahui bahwa begitu banyak di antara mereka sekarang mengenal Kristus, semua itu menjadi tidak sia-sia. Aku tahu bahwa penahanannya tidaklah sia-sia," ungkap sang isteri seperti dikutip Christianpost.com.

"Anak-anak begitu ingin supaya ia kembali, tapi kami bangga bahwa ia lebih memilih Kristus dari kami, bahkan lebih dari berkumpul bersama kami, ia telah memilih untuk mempertahankan imannya," ungkapnya. 

Saat ini petisi untuk pembebasan Pastor Saeed di beheardproject.com telah mencapai lebih dari 600.000. [+]


Mohon doa: Serangan bom di depan sebuah gereja di Pakistan merenggut nyawa 78 orang (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Senin, 23 September 2013 | 06:30

Protes dari umat Kristen di Lahore terhadap pemboman gereja All Saints (foto: AFP). 

MP - 29 Setember 2013.
Sebuah bom kembali mengguncang kota Peshawar, Pakistan, menewaskan 40 orang dan melukai 90 orang lainnya. Enam orang anak dan tiga perempuan turut menjadi korban jiwa. Bom meledak dekat sebuah mesjid dan kantor polisi dan merusakkan tempat ibadah itu dan bangunan tokoh dan kendaraan di lokasi.

Hari Jumat sebelumnya 19 orang tewas dilaporkan tewas setelah sebuah bus yang membawa pegawai pemerintah diledakkan.

Sementara itu serangan drone AS di wilayah itu dilaporkan menewaskan tiga militan. 

Pemerintah Pakistan mengecam serangan bom dan drone tersebut. (AP)


MP - 25 September 2013.
Jumlah korban serangan bom bunuh diri di gereja All Saints menjadi lebih dari 80 orang.

Taliban mengklaim serangan itu sebagai balasan atas serangan drone AS (Christiantoday, 22/9/13).

Paus Fransiskus mengutuk serangan itu dan mendoakan para korban di tengah kunjungannya di Cagliari, Italia. "Hanya jalan perdamaian yang dapat membangun sebuah dunia yang lebih baik," ungkapnya seperti dikutip News.va, 22/9/13.)

Sebuah berita menyedihkan menimpa bagian tenggara Pakistan. Korban setelah gempa berkekuatan 7,7 pada skala richter mencapai 327 orang menurut laporan Reuters. Doakan juga warga masyarakat Pakistan yang menghadapi bencana alam ini. (update: Jumlah korban telah mencapai lebih dari 500 orang.)

-------

PAKISTAN, Peshawar - Gereja Anglikan All Saints menjadi target serangan bom bunuh diri seusai ibadah Minggu (22/9/2013 waktu setempat), merenggut nyawa 78 orang dan lebih dari 100 orang dilaporkan terluka.

Diberitakan LA Times, Muhammad Ali, kepala kepolisian setempat, mengatakan bahwa serangan bom itu dilakukan oleh dua orang. 

Menurut keterangannya seorang pemuda menyerang sekelompok jemaat yang baru selesai ibadah Minggu di gereja yang terhitung dalam bilangan tertua di wilayah itu.

Ketika seorang polisi hendak menghentikannya ia meledakkan dirinya, yang kemudian diikuti oleh ledakan berikutnya, juga sebuah bom bunuh diri. 

"Kami telah menemukan kepala dari salah satu pelaku bom itu," ungkapnya.  

Sekitar 400 sampai 500 orang biasa menghadiri ibadah Minggu. 

Di antara korban tewas terdapat 34 perempuan dan 7 anak-anak ungkap Menteri Dalam Negeri Pakistan, Chaudhry Nisar Ali Khan.

Kalangan gereja Katolik dan pemerintah provinsi Khyber Pakhtunkhwa telah mengumumkan tiga hari berkabung.


Tidak memiliki agama

Detiknews melansir bahwa kelompok militan Jundullah yang terkait dengan Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. "Mereka adalah musuh Islam, karena itu kami menargetkan mereka," ujar juru bicaranya, Ahmed Marwat. 

"Kami akan terus melakukan penyerangan terhadap non Muslim di Pakistan," imbuhnya. 

Perdana Menteri Nawaz Sharif telah mengutuk serangan itu. 

"Tindakan terorisme kejam yang demikian menunjukkan kebrutalan dan pola pikir para teroris yang tidak manusiawi."

"Teroris tidak memiliki agama, dan menjadikan orang tak bersalah sebagai target adalah bertentangan dengan ajaran Islam dan semua agama," ungkapnya dalam sebuah pernyataan. 


Tanggung jawab pemerintah

"Pemerintah bertanggung jawab atas penumpahan darah ini," ungkap John William, pendeta dari Gereja Pakistan yang membantu para korban di rumah sakit. "Bukannya menghukum militan, mereka justru dilepaskan dari penjara." 

Pemerintah Pakistan sedang berupaya untuk mengadakan perjanjian damai dengan kelompok militan. Salah satu cara yang ditempuh adalah membebaskan sejumlah tahanan. Namun, menurut PM Sharif serangan itu "tidak kondusif terhadap perundingan damai," dan tidak bisa menindak-lanjuti apa yang telah dipertimbangkan. 

Ketika ditanyakan mengapa pihak kepolisian tidak berupaya lebih untuk menjaga keamanan warga, kepala kepolisian Muhammad Ali mengungkapkan 800 anggota polisi telah menjadi korban serangan militan. "Kami berupaya untuk melakukan yang terbaik, tapi bagaimana kami menghentikan pelaku bom bunuh diri ini?" 

Serangan ini telah memicu aksi protes di Pakistan, terutama dari kalangan Kristen. "Teroris telah menyerang mesjid, kuil, dan gereja. Kasihan kami," ungkap seorang pria di luar sebuah gereja kepada chanel televisi Geo, seperti dikutip Reuters. 

Menurut data Library of Congress AS 2005, terdapat 1,6 juta orang Kristen di Pakistan, sama dengan jumlah penganut Hindu. Warga Kristen sering menjadi pelampiasan sentimen anti Barat di Pakistan. Sikap sebagian masyarakat yang masih menganggap umat beragama lain sebagai musuh dan harus dibenci telah menyebabkan sejumlah tindak kekerasan dan perlakuan tidak adil terhadap warga beragama Kristen. [+]




Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 
(Injil Yohanes 10:10)

Jemaat GKI Yasmin tunggu janji Walikota Bogor yang baru

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 21 September 2013 | 22:48

Walikota Bogor, Bima Arya, dan Wakil Walikota
Usmar Hariman (foto: Antara). 
INDONESIA, Jakarta – Jemaat GKI Yasmin berharap Walikota Bogor terpilih Bima Arya bisa menepati janjinya untuk menyelesaikan kasus sengketa bangunan gereja. 

Juru bicara GKI Yasmin, Widiati Novita Rini mengatakan hanya bisa menunggu tindakan pasti untuk menyelesaikan sengketa bangunan sejak tahun 2008 lalu. Jemaat GKI Yasmin berharap bisa menggunakan gereja yang disegel.

“Semoga memang Walikota yang baru bisa memenuhi janjinya untuk menjalankan konstitusinya. Kita lihat nanti saja, kita gak bisa bilang yakin atau enggak. Kita tunggu buktinya,” ujar Widiati kepada KBR68H.

Sebelumnya (20/9 waktu setempat), dalam sebuah wawancara eksklusif KBR68H, Walikota Bogor terpilih berjanji menyelesaikan persoalan bangunan GKI Yasmin.

“Saya kira tidak usah menunggu dilantik yah, sekarang pun tujuh bulan ini saya bisa dengan pak wali sekarang bisa duduk bersama untuk menyelesaikan itu. Artinya langkahnya harus diterima semua. Realitas hukum harus sesuai dengan realita politik yang ada di situ,” katanya. 

Kasus penyegelan bangunan GKI Yasmin di Bogor tak bisa diselesaikan oleh Dianu Budiarto saat menjabat Walikota Bogor. 

Pada 2010 Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang meminta walikota Bogor membatalkan pencabutan IMB. Namun selama bertahun-tahun walikota Bogor menolak melaksanakan keputusan itu. Menurut KBR68H, dengan memakai UU Peraturan Daerah.

Hal ini turut dipengaruhi oleh sejumlah elemen masyarakat yang bersikukuh untuk menolak jemaat beribadah di lokasi itu. 

Jikalau penolakan terhadap bangunan tempat hiburan tentunya dapat dipahami, namun bahwa itu merupakan gereja yang mempunyai surat resmi tentu adalah hal yang sangat disayangkan di negara Pancasila ini. 

Warga masyarakat sebagai umat beragama perlu menumbuhkan kedewasaan berpikir dan ramah-tamah antara pemeluk agama berdasarkan hukum dan keadilan. (KBR68H | MP)

Umat Kristen di negara-negara Arab: Kami bukan minoritas

Written By Menara Penjaga on Senin, 09 September 2013 | 22:31

Tokoh-tokoh dan pemimpin agama Kristen dan Muslim pada konferensi yang membahas situasi umat Kristen di negara-negara Arab (foto: Xinhua/Mohammad Abu Ghosh)

YORDANIA, Amman (MP) – Sebuah pernyataan dari Patriakat Antiokia dan Seluruh Wilayah Timur Gereja Ortodoks Yunani mengenai situasi di Suriah dan wilayah Timur Tengah di antaranya menolak penyebutan umat Kristen sebagai “agama minoritas.”

“Kami tidak melihat diri kami sebagai agama minoritas dan tidak mau ada orang yang melihat kami demikan, melainkan dari sudut pandang tanggung jawab nasional dan kewarganegaraan penuh,” demikian diungkapkan dalam pernyataan itu.

Pernyataan bertanggal 30 Agustus 2013 itu turut menolak penyelesaian militer atas situasi di Suriah, dan menggarisbawahi bawahi solusi politik dan solusi damai lewat dialog.

Menyikapi konflik di Suriah itu, Patriakat Antiokia menyatakan bahwa “Gereja berakar di tanah ini dan kami bersikukuh dalam prinsip-prinsip tertentu mengenai keterlibatannya dalam urusan-urusan kemasyarakatan.”


"Kami mendengar masyarakat internasional ini sering berlagak menangisi orang-orang Kristen di Timur dan menunjukan rasa sedih untuk apa yang ia sebut situasi buruk mereka [orang-orang Kristen]. Akan tetapi, kami tidak membutuhkan penghiburan ini karena nasib kami di negeri-negeri kami adalah sama dengan saudara-saudara sebangsa kami, yang telah lama hidup bersama-sama dalam kasih dan harmoni."

Pernyataan lengkap Patriakat Antiokia dapat dilihat di situs spc.rs.


Tantangan umat Kristen di negara-negara Arab

Penolakan umat Kristen di negara-negara Arab terhadap perspektif “minoritas” ini turut disuarakan oleh Sekjen DGD, Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit dalam konferensi “Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi Umat Kristen Arab.” (Oikoumene.org)

Umat Kristen di negara-negara Arab “ingin memahami diri mereka sebagai warga negara penuh negara-negara mereka, dengan semua tanggung jawab yang mengikutinya, dalam hal tugas, hak penuh dan tanggung jawab,” ungkapnya.

Konferensi yang dilaksanakan 3-4 September 2013 di Amman, Yordania, atas prakarsa Raja Abdullah II dan penasehat utama urusan agama dan budaya Yordania, Pangeran Ghazi bin Muhammad, ini menghadirkan tokoh-tokoh Kristen dan Muslim.

Dalam sambutannya, Pangeran Ghazi mengungkapkan keprihatinannya bahwa “Masyarakat Kristen Arab tidak hanya menderita karena hasutan yang buta dan tuli, [penderitaan] yang juga di alami oleh semua [warga] di negara-negara Arab tertentu sejak dimulainya apa yang secara keliru disebut Arab Spring. Tapi juga menderita semata-mata karena mereka adalah umat Kristen.”

“Kami menolak secara tegas dan menyeluruh hal demikian ini. Kami menolaknya seturut dengan hukum suci kami, sebagai Muslim di hadapan Allah. Kedua, kami menolaknya secara moral, sebagai [sesama] masyarakat Arab dan saudara sesuku. Ketiga, kami menolaknya secara emosi, sebagai tetangga sesama manusia dan teman terkasih.”

Menurut Pdt. Tveit, umat Kristen di Arab memiliki sejarah panjang hidup dalam masyarakat plural yang menghormati kemajemukan, dengan memahami bahwa semua orang diciptakan Tuhan sederajat. +

Ketika kematian meninggalkan bau harum: Telah berpulang Samuel Lamb, tokoh gereja bawah tanah di Cina

Written By Menara Penjaga on Kamis, 22 Agustus 2013 | 12:43

Alm. Pastor Samuel Lamb.
RRC, Guangzhou (MP) – Ribuan pelayat menghadiri acara pemakaman Samuel Lamb (88), seorang pilar gerakan gereja bawah tanah di Cina. Banyak di antara mereka yang memakai pakaian hitam atau putih, busana duka menurut tradisi setempat.

Pastor Lamb berpulang pada tanggal 3 Agustus 2013, dengan acara pemakaman dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus lalu, sehari lebih awal dari yang direncanakan.

“Ada hampir 30.000 orang yang hadir hari ini,” ungkap seorang pekerja di rumah duka Yinhe, distrik Tianhe, Guangzhou, seperti dilaporkan South China Morning Post (17/8/13). “Saya sudah bekerja di sini selama 10 tahun, dan belum melihat yang seperti ini sebelumnya. Bahkan prosesi duka untuk [pemimpin partai] Guangdong tidak menarik pengunjung sebanyak ini.”

Wen Yu (38), seorang pengacara yang turut hadir, mengatakan bahwa jumlah pengunjung akan lebih banyak, jika hari pemakaman tidak dimajukan sehari.

Tak hanya menarik para pelayat dari berbagai latar belakang, acara pemakaman Pastor Lamb juga dijaga ketat oleh pihak kepolisian.

Para pelayat berduyun-duyun mendatangi rumah duka di mana Pastor Samuel Lamb
disemayamkan untuk memberikan penghormatan terakhir (foto: scmp)

Pastor Lamb, yang nama Cinanya adalah Lin Xiangao, pernah dimasukkan di kamp kerja paksa selama 20 tahun karena menolak mendaftarkan gereja yang dipimpinnya di bawah kontrol pemerintah. Sebelumnya ia juga sudah pernah dipenjara selama 18 bulan karena melanggar peraturan pemerintah tentang berkhotbah.

Tahun 1978 setelah keluar dari kamp kerja paksa ia kembali melanjutkan pelayanannya. Gereja yang dipimpinnya pun menjadi gereja lokal terbesar di Guangzhou saat ini. Jumlah kehadiran pada ibadah Minggu mencapai 5000 orang di distrik Yuexiu.

Bagi Pastor Lamb “peraturan Allah berada di atas peraturan pemerintah.” Keteguhan hatinya tercermin dari apa yang ia selalu ungkapkan:

"Kita harus siap untuk menderita. Kita harus siap dengan kenyataan bahwa kita kemungkinan akan ditahan. Sebelum saya dimasukkan ke penjara, saya sudah menyiapkan tas dengan beberapa pakaian, sepatu dan sikat gigi. Ketika saya harus pergi ke kantor polisi, saya tinggal mengambilnya. Saya sudah siap. Orang-orang masih terus ditangkap. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hari ini pemerintah tidak mengganggu kita, tapi besok hal mungkin berbeda. Saya berdoa bahwa kita akan menerima kekuatan untuk berdiri teguh."

Dalam 20 tahun terakhir ini, anggota gereja bawah tanah telah berkembang hingga puluhan juta pengikut, sedangkan anggota gereja Protestan resmi telah berkurang. Pihak kepolisian terus berupaya supaya gerakan gereja bawah tanah di Cina menggabungkan diri dengan gereja resmi; yang menentang, pertemuannya dilarang.

Hal ini sudah dialami oleh gereja rumah yang dibentuk Pastor Lamb, sekalipun beberapa waktu terakhir ini mereka telah dapat melakukan aktivitasnya relatif tanpa gangguan.

Ketika Pastor Lamb menjalani kerasnya hidup di tambang batubara oleh karena imannya, isterinya meninggal dunia. Ia tidak diijinkan untuk menghadiri pemakaman isteri tercintanya. Dalam perenungannya kemudian ia mengatakan, “Itu seperti panah dari Yang Mahakuasa, sampai saya mengerti bahwa Allah mengijinkan penderitaan, kehilangan, siksaan; tapi kita harus bertumbuh melampaui semua itu.”

Akhirnya, setelah bertumbuh dan melihat penyertaan Allah dalam hidupnya, Pastor Lamb pun telah sampai pada istirahatnya dalam Tuhan, bersama isteri tercintanya, dan semua orang kudus dari segala abad dan tempat. Semua menanti hari ketika Tuan itu berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia...Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21).+

Pdt. Faye Pama Musa: Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku

Written By Menara Penjaga on Kamis, 01 Agustus 2013 | 21:16

NIGERIA, Borno (MP) – Laporan Open Doors, organisasi advokasi Kristen teraniaya, membuka kembali lembaran pahit keluarga mendiang Pdt. Faye Pama Musa yang ditembak mati oleh tiga orang bersenjata di kediamannya di Maiduguri, negara bagian Borno, Nigeria, 14 Mei 2013 lalu.

Sebulan setelah kejadian yang memiriskan hati ini, pengurus Open Doors disambut oleh ibu Mercy, janda dengan empat orang anak. “Yang kulihat hari ini adalah persahabatan sejati,” ungkapnya. 

“Bagaimana kau bisa datang ke Maiduguri pada saat berbahaya ini ketika orang-orang sedang meninggalkan kota? Kau disambut di sini dalam nama Yesus. Saya senang bertemu denganmu lagi.”

~+~


Pada peristiwa malam 14 Mei itu, Pdt. Musa, ibu Mercy dan sebagian dari anak-anak mereka sedang berada di rumah. Sementara ibu Mercy sedang mempersiapkan makan malam, Zion (17), remaja putri yang duduk di luar, melihat tiga orang bersenjata melompat pagar. Dia berlari masuk ke ruang tamu untuk mengingatkan ayahnya.

Pdt. Musa melirik melalui jendela dan melihat para pelaku sudah berada di pintu depan. Mereka menerobos masuk dan berteriak, "Semua orang di lantai!"

Pdt. Musa langsung menyadari mengapa orang-orang itu datang, dan mencoba meloloskan diri melalui pintu belakang dan melompati pagar. Tapi mereka berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke teras rumah. "Hari ini kau adalah orang mati. Panggil Yesusmu untuk membantumu, Mr CAN!"* teriak salah satu penyerang.

Pdt. Musa tidak menyerah tanpa perlawanan. Sementara bergulat dengan tiga orang itu, ia terus-menerus memanggil nama Yesus.

Saat itu Zion tidak bisa menanggung mendengar ayahnya. Dia bangun dari lantai dan lari ke teras. Dia memohon para penyerang untuk tidak membunuh ayahnya. Mereka melepaskan tembakan ke arahnya tapi luput. Namun, syok membuatnya pingsan.

Pergumulan terus berlanjut. Ibu Mercy mendengar suaminya berkata, "Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku." Saat ia merangkak ke pintu, ia melihat penyerang menembak suaminya tiga kali di bagian kepala. Pdt. Musa meninggal di tempat, dan para penyerang kabur dengan sebuah mobil.

Pdt. Musa tidak hanya memiliki teman di kalangan orang Kristen. Banyak saudara-saudara Muslim menyatakan syok dengan kematiannya. Seorang pejabat keamanan Muslim terkemuka mengutuk keras pembunuhan itu. Ia mengatakan, "Pdt. Faye Pama Musa adalah seorang duta perdamaian. Aku akan merindukan pria Kristen ini yang adalah berkat dan aset besar bagi masyarakat ini."

Pdt. Musa meninggalkan seorang istri, ibu Mercy, dan empat orang anak: Winner (19), seorang mahasiswa di Universitas Ghana, Zion (17), seorang siswa sekolah menengah, Praise (11), dan Miracle (6), kedua masih murid pendidikan dasar. Saat ini Open Doors menopang dengan bantuan moneter untuk kebutuhan mendesak seperti sewa dan biaya sekolah.

"Terima kasih untuk tetap menaruh kami dekat dengan hati kalian," ungkap ibu Mercy. "Terima kasih untuk pemberian ini. Tetapi di atas semuanya, terima kasih untuk cinta kalian untuk keluarga saya. Semoga Tuhan yang baik semakin mempersatukan kita."


* Alm. Pdt. Musa, selain sebagai Pengawas Umum Rhema Assembly International Church, beliau adalah juga Sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN).
Doakan masyarakat Nigeria, terutama orang Kristen, yang masih terus menghadapi kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh para teroris. Darah para martir adalah pupuk bagi gereja.

Lima perempuan diserang ketika membagikan kabar baik: Kami bersukacita dalam Tuhan

Written By Menara Penjaga on Selasa, 30 Juli 2013 | 08:59

Lima penginjil perempuan yang memiliki semangat
para rasul Kristus (foto: GFA). 
INDIA, Andhra Pradesh (MP) – Lima orang perempuan yang tergabung dalam organisasi Gospel for Asia (Injil untuk Asia) diserang ketika membagikan kabar baik Kristus di negara bagian Andhra Pradesh, India, Rabu, 25 Juli 2013, demikian dilansir situs organisasi GFA.

Bansari, Jaladhi, Kuyil, Sunita dan Viveka pada pagi menjelang siang mengunjungi pasar yang terletak sekitar empat mil (kl. 6,4 km) dari kantor administrasi GFA di mana mereka melayani.

Mereka telah secara rutin berupaya menjangkau masyarakatnya dengan berbagai cara, termasuk mendoakan orang sakit, pengorganisasian program pemuda dan memimpin kelompok persekutuan wanita, yang menyediakan kelas belajar membaca dan pelatihan keterampilan lainnya.

Sementara mereka menawarkan literatur kepada pemilik toko dan orang-orang di pasar itu, seorang pemuda bertanya kepada Jaladhi tentang kegiatan apa yang mereka sedang lakukan. Ketika Jaladhi mengatakan bahwa mereka berbagi kabar tentang Yesus, pemuda tersebut menampar wajahnya.

Sewaktu Sunita, Viveka dan Bansari bergegas menuju ke Jaladhi, pria itu juga menyerang mereka dengan memukul berulang kali. Sementara itu, Kuyil, yang ada di sisi lain di pasar itu dapat melalui lima orang laki-laki yang telah mengitarinya.

Para pengunjung pasar melihat situasi itu tapi tidak melakukan apa pun untuk menghentikan serangan.

Para pekabar Injil perempuan ini merasakan sakit dan mengalami bengkak pada gendang telinga dan leher mereka, tetapi tidak ada luka serius. Mereka segera melaporkan kejadian tersebut kepada pemimpin mereka setelah kembali ke kantor GFA.

Mereka mengatakan mereka sangat senang bahwa nama Allah akan dimuliakan melalui penderitaan mereka.

"Kami bersukacita dalam Tuhan, meskipun dipukuli," kata Bansari. "Semoga Tuhan mengubah hati mereka."(+)

Hoang Van Ngai: Pelayan orang miskin meninggal dalam tahanan

Written By Ray Maleke on Sabtu, 15 Juni 2013 | 11:11

Jenazah Pnt. Ngai diratapi keluarga dan jemaat
(foto: MoSN).
MP -- Hoang Van Ngai seorang penatua Gereja Injili Vietnam, meninggal dalam tahanan di Gia Nghia, Provinsi Dak Nong, Vietnam, pada 17 Maret 2013. 

Ia beserta saudaranya, Hoang Van Pa, ditangkap oleh polisi tanpa dokumen resmi dua hari sebelumnya (15 Maret).

Tanggal 14 Maret polisi sudah datang mencari mereka, tetapi mereka berhasil menghindar. Namun Ly Thi Lagu, istri Pnt. Ngai, dan adik iparnya, Ly Thi My, dibawa polisi. Menurut penuturan Pa, kedua tangan perempuan ini diikat dan mereka diseret ke mobil polisi. Mereka juga dipukul dengan tongkat.

Tidak ada tuduhan resmi terhadap mereka, namun ada laporan mengatakan bahwa mereka “merusak hutan.” Mereka telah membeli sebuah lahan di Kecamatan Dak Glong dan mulai membersihkan semak-semaknya. Menurut Hoang Van Pa yang ada di lahan itu hanya tunggul pohon.

Pnt. Ngai (38), yang dalam bahasa Hmong dipanggil Vam Ngaij Vaj, rupanya telah membuat marah beberapa pejabat pemerintah yang tidak suka dengan kelangsungan aktivitas Gereja Bui Tre yang telah dilarang bertemu 2000-2003 lalu. Ia juga menolak membayar suap dan sebaliknya "sangat menentang penyalahgunaan kekuasaan mereka," demikian diungkapkan Pa dalam sebuah laporan kepada pejabat pemerintah dan pemimpin gereja.

Penganiayaan dalam penjara
Ketika berada dalam tahanan, sekitar pukul tiga sore tanggal 17 Maret, Pa mendengar suara teriakan, gesekan perabot dan pemukulan keras yang datang dari sel saudaranya, demikian dinyatakan dalam laporannya.

Pada pukul empat tiga puluh, seorang polisi melihat ke dalam sel dan berkata, "Orang ini [Pnt. Ngai] mungkin sudah mati," ungkap Pa.

Sejumlah polisi datang dengan cepat dan membawa Pnt. Ngai keluar dari sel ke sebuah taksi yang telah dipanggil lewat telpon. Pa menyatakan bahwa saudaranya kelihatan "benar-benar lemas seolah-olah ia sudah mati, ... tanda lebam di lehernya."

Ketika Pa memohon untuk pergi membantu saudaranya, penjaga mengejek sambil mengatakan kepadanya bahwa Pnt. Ngai hanya sakit perut.

Mencari keadilan
Le Hien, pimpinan Komite Rakyat provinsi Dak Nong, memberi pernyataan bahwa kematian Pnt. Ngai adalah akibat bunuh diri (BBC, 24 Maret). Sebelumnya, tanggal 18 Maret kepolisian memberi keterangan bahwa Pnt. Ngai dengan sengaja menyetrum dirinya sendiri dengan memasukan tangan ke colokan listrik. 

Pernyataan pemerintah setempat ditolak oleh keluarga almarhum. Mereka mengatakan bahwa ada lebih dari 300 saksi yang melihat tubuh Ngai, dan mereka sependapat dengan apa yang digambarkan Pa, bahwa "banyak memar dan lebam di leher, punggung, dan kepala, dan luka yang dalam di tubuhnya dan kepalanya pecah." Mereka juga marah karena Pnt. Ngai diautopsi tanpa pengetahuan dan persetujuan keluarga.

Anggota keluarga menyatakan bahwa Pnt. Ngai adalah pria yang kuat dan sehat, serta tidak ada alasan baginya untuk melakukan bunuh diri.

Dalam surat protes yang dilayangkan tanggal 29 Maret kepada kepala polisi Provinsi Dak Nong, istri, saudara serta serta adik ipar almarhum memberikan kesaksian bahwa mereka semua ditahan tanpa tuduhan atau dokumen hukum. Di dalamnya termasuk protes karena kedua perempuan ini dipukuli dalam tahanan dan bahwa mereka tidak diijinkan untuk membantu Pnt. Ngai mengikuti penganiayaan kejam para polisi. Mereka meminta pihak berwenang untuk meminta pertangungan jawab mereka yang melakukan tindakan melanggar hukum tersebut.

Pada pertengahan bulan Mei, pihak berwajib dilaporkan memberitahu keluarga bahwa penyebab kematian adalah menyetrum diri sendiri. 

Organisasi Christian Solidarity Worldwide (Solidaritas Kristen Sedunia), bersama organisasi HAM lainnya telah menyerukan diadakannya "sebuah penyelidikan baru yang disertai kesaksian dari tahanan lainnya dan bukti foto" untuk memperjelas situasi penangkapan, penahanan, dan kematian korban.  

Para pelayat datang menyampaikan belasungkawa
(foto: MoSN).
Kehilangan yang besar
Pnt. Ngai mempunyai empat orang anak yang berusia antara 7 sampai 15 tahun. Ia bekerja sebagai kontraktor bangunan, sekaligus berdagang dan bertani.

Pnt. Ngai, seorang berlatarbelakang etnik Hmong, menjadi pengikut Kristus tahun 1999, dan telah melayani ibadah di Gereja Bui Tre, sebuah jemaat Gereja Injili Vietnam (Selatan) yang resmi diakui pemerintah. Lebih dari 600 orang secara teratur menghadiri ibadahnya, termasuk 230 anak-anak.

Pnt. Ngai membantu pembangunan gereja kayu yang menarik bagi jemaat Bui Tre tahun 2006, sekalipun melalui rintangan dan yang gangguan dari pihak pemerintah.

Ratusan pelayat membanjiri upacara pemakaman Pnt. Ngai.

"Kita tahu bahwa almarhum (Pnt. Ngai) dicintai dan dihormati oleh ribuan orang Kristen dan masyarakat luas sebagai orang yang jujur dan murah hati," ungkap salah satu pimpinan masyarakat Hmong di wilayah itu. "Dia adalah orang yang melatih dan mempekerjakan banyak orang di usaha bisnis dan pertaniannya yang sukses; yang membantu orang miskin tanpa menghitung-hitung. Dia adalah seorang yang antusias dan pemimpin yang efektif di gerejanya. Betapa merupakan kehilangan bagi kami!"

Saudara Pnt. Ngai,
Pdt. Hoang van Qua, pemimpin Gereja Tre Bui, mengatakan bahwa Pnt. Ngai memiliki perhatian khusus terhadap masyarakat miskin.

"Dia membantu mereka dalam hal bangunan, dengan pengangkutan beras, memberikan uang kepada mereka yang miskin dan orang-orang yang menghadapi saat sulit, membantu anak-anak sekolah yang tidak memiliki buku sekolah atau pakaian sekolah," ungkap Pdt. Qua. "Apapun yang ada dalam sakunya, ia siap memberikannya kepada orang miskin, tidak pernah repot-repot menghitung."
(MoSN/BNL/News.Va)

-------
Topang dalam doa keluarga alm. Pnt. Ngai dan jemaat Tre Bui supaya lewat peristiwa kematian ini kebangkitan terjadi dalam kehidupan keluarga dan jemaat, dan dengan ditegakkannya keadilan, masyarakat di Provinsi Dak Nong, Vietnam, mengalami transformasi yang mendatangkan hidup. 

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10:39)

Pimpinan Persekutuan Pentakosta dibunuh, Nigeria masih belum kondusif

Written By Menara Penjaga on Kamis, 23 Mei 2013 | 10:30

Pdt. Faye Pama Musa (foto:
Christiantoday). Berharga
di mata Tuhan kematian orang-
orang yang dikasihi-Nya. 
NIGERIA, Borno (MP) -- Sejumlah pria bersenjata menewaskan Pdt. Faye Pama Musa, seorang pendeta senior dari Gereja Pentakosta, Jemaat Rhema, negara bagian Borno. Almarhum juga adalah sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN), atau Asosiasi Kristen Nigeria, cabang Borno.

Para pelaku kejahatan dilaporkan mengikuti pemimpin Kristen ini dari gedung gereja di mana ia memimpin sebuah penelaahan Alkitab malam sampai ke rumahnya di Kawasan Reservasi Pemerintah di Maiduguri, dan menembaknya mati di sana, demikian diinformasikan Pdt. Titus Dama Pona, ketua CAN cabang Borno, Nigeria, seperti dilansir Christiantoday.com (16/5/13).

Alm. Pdt. Faye Pama Musa berusia 47 tahun dan meninggalkan tiga orang anak. Salah satu dari mereka sempat memohon supaya ayahnya jangan dibunuh ketika diseret keluar rumah. Almarhum telah terlibat dalam pelayanan selama lebih dari 26 tahun.

Seperti dilaporkan Christiandtoday.com, dalam sebuah wawancara di tahun 2007, Pdt. Musa mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan Borno terlepas dari bahaya yang mengancam keberadaan hidupnya. 

"Saya seorang asli negara bagian Borno, dan Tuhan telah memanggil saya untuk bekerja di antara kawanua saya," katanya. "Saya percaya bahwa yang terbaik untuk menjangkau orang-orang ini adalah mereka yang memahami budaya orang-orang ini."

Serangan-serangan terhadap orang Kristen di Nigeria selalu dihubungkan dengan sebuah kelompok anarkis yang telah populer dengan nama Boko Haram. Kelompok ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak tahun 2009. Kontak senjata antara militer Nigeria dan kelompok ini di Baga, negara bagian Borno bulan lalu, dilaporkan memakan korban lebih dari 100 warga sipil.

Menurut Christiantoday.com, penembakan terhadap Pdt. Musa terjadi tak lama setelah Presiden Goodluck Jonathan mengumumkan keadaan darurat di negara bagian Borno, Yobe dan Adamawa. 

Karakterisasi Boko Haram yang selalu dihubung-hubungkan dengan Islam telah memicu deklarasi sebuah kelompok lain yang mengatas-namakan kelompok Kristen untuk melakukan serangan terhadap mesjid dan penganut Islam. Namun demikian, para pemimpin Kristen telah melayangkan surat permohonan kepada MEND (Movement for the Emancipation of the Delta Niger) untuk tidak melakukan serangan demikian. Hal ini mendapat reaksi positif dari MEND. 

Nigeria adalah negara dengan penduduk terbesar di Afrika. Sekalipun dengan sumber daya minyak (black gold) yang besar, Nigeria tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dan saat ini berada di bawah kontrol IMF. 

Dengan konflik berkepanjangan serta membesarnya kecurigaan antara warga negara Nigeria yang memeluk agama berbeda, maka kemungkinan untuk mengatasi pencurian crude oil (minyak mentah), memberantas korupsi, dan membangun masyarakatnya seakan menjauh.***  


-------
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10:39)

Mohon doa bagi pemimpin gereja Ortodoks Suriah dan Yunani yang diculik kelompok bersenjata (up-dated)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 24 April 2013 | 00:46

Topang dalam doa Uskup Yohanna Ibrahim dan Uskup Boulos Yaziji yang telah mengambil
resiko bertahan dalam pelayanan sekalipun di tengah-tengah situasi yang tidak kondusif
(foto: http://yallasouriya.wordpress.com)/
MTN, 24 Mei 2013.
Pernyataan lewat Radio Vatikan menyangkut penculikan Uskup Agung Mar Gregorios Yohanna Ibrahim dan Boulos Yazaji, masing-masing Metropolitan Gereja Ortodoks Suriah dan Gereja Ortodoks Yunani Keuskupan Aleppo:
Sebuah kelompok tak dikenal telah menculik keduanya tanpa mengklaim tanggung jawabnya sampai sekarang, atau pun mengumumkan alasan penculikan atau mengetahui tempat mereka.
Kami dari keuskupan Gereja Ortodoks Yunani dan Suriah, Aleppo, dalam koordinasi dengan dua Patriarkat di Damaskus, hari demi hari mengungkapkan kesedihan kami dan kepedihan yang semakin mendalam oleh sebab penculikan dan ketidakhadiran kedua wali gereja terkemuka ini, serta apa yang mereka wakili dalam hal kekudusan hidupnya, jabatannya di tingkat lokal dan internasional, serta peran aktif mereka di semua tingkatan termasuk spiritual, pemikiran, akademik, pendidikan dan sosial; namun di atas segalanya adalah pekerjaan kemanusiaan yang mereka bawa dalam krisis saat ini yang sedang melanda negara kami Suriah.
Pada hari ini, setelah satu bulan sejak mereka diculik, di tengah doa dan permohonan oleh gereja-gereja lokal dan di seluruh dunia; serta seruan, pernyataan dan upaya-upaya dari organisasi Kristen dan Muslim dunia dan masyarakat internasional, kami kembali menyampaikan permintaan kami kepada para penculik untuk memperbaiki tindakan mereka, takutlah akan Allah, dan lepaskan kedua Uskup Agung tanpa menyakiti kesehatan atau fisik mereka, dan melepaskan semua imam lain dan warga sipil tak berdosa yang juga diculik.

Satu bulan dalam penculikan telah lebih dari cukup untuk kedua Uskup Agung. Derita yang mereka rasakan dalam penculikan mereka, juga merupakan derita bagi semua orang beriman dari dua komunitas mereka, yaitu rakyat Suriah dan dunia.
Penculikan kedua Uskup Agung sampai saat ini merusak struktur negara Suriah dalam keberagamannya dan sejarah panjang kewarganegaraan dan hidup bersama di Suriah. Bencana demikian akan diingat dan dicatat dalam sejarah, demikian pula kehancuran dan kesedihan Suriah.
Tindakan seperti itu tidak akan menakutkan kami karena kami adalah anak-anak dari "Kebangkitan."
Kami percaya bahwa belas kasihan dari satu Allah yang kita semua percaya, akan menuntun para penculik dan mendorong mereka untuk melepaskan kedua Uskup Agung tanpa pra-kondisi, karena tidak ada harga yang sama dengan kebebasan dua Uskup Agung, dan tidak ada kondisi yang sama dengan pengembalian mereka ke komunitas dan gereja mereka masing-masing.
Kami kembali menyampaikan permohonan kami dan melanjutkan doa-doa kami dengan kesungguhan kepada Allah untuk pembebasan kedua Uskup Agung, para imam, dan semua orang yang berada dalam penculikan. 



-------
SURIAH, Aleppo (Kompas, Selasa, 23 April 2013) -- Kelompok militan di kawasan yang dikuasai kelompok perlawanan di Suriah utara menculik dua pendeta yang sedang dalam perjalanan ke Aleppo. Penculikan atas kedua pendeta yang melakukan perjalanan dari perbatasan Turki itu dilaporkan oleh media pemerintah dan dikukuhkan seorang pemimpin kelompok pemberontak.

Keduanya adalah Uskup Yohanna Ibrahim yang menjabat pimpinan Gereja Ortodoks Suriah di Aleppo dan Uskup Boulos Yaziji yang memimpin Gereja Ortodoks [Yunani].

Namun masih belum jelas kelompok yang menculik mereka. "Semua kemungkinan masih terbuka," tutur Abdulahad Steifo dari kelompok perlawanan Koalisi Nasional Suriah.

Dia mengatakan penculikan terjadi ketika keduanya sedang dalam perjalanan dari kawasan perbatasan Bab al-Hawa, yang dekat dengan kota Reyhanli di Turki, menuju Aleppo. Stasiun TV negara melaporkan 'kelompok teroris bersenjata' yang menculik kedua pendeta yang sedang melaksanakan 'tugas kemanusiaan' di kawasan pedesaan Aleppo.

Masa sulit Aleppo

Seorang penduduk Aleppo yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penculik menembak mati supir yang membawa kedua pendeta itu. Yohanna Ibrahim dan Boulos Yaziji merupakan pendeta paling senior yang sejauh ini terkena dampak langsung perang Suriah.

Bulan September Uskup Ibrahim mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ratusan keluarga Kristen mengungsi dari Aleppo akibat pertarungan antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak di kota itu. "Dalam sejarah modern, Aleppo tidak pernah mengalami masa-masa sulit dan seperti ini. Umat Kristen diserang dan diculik dengan cara yang dahsyat dan keluarga mereka harus membayar uang dalam jumlah besar untuk pembebasan," tambahnya.

Warga Kristen di Suriah mencapai sekitar 10 persen dari total jumlah penduduk yang mayoritas merupakan umat Islam Sunni. Perkiraan angka itu sebelum terjadi perlawanan atas Presiden Bashar al-Assad dua tahun lalu.

PBB memperkirakan lebih dari 60.000 orang tewas akibat konflik bersenjata di Suriah dan lebih dari satu juta orang mengungsi ke negara-negara tetangga.

Judul asli: Dua Pendeta Diculik di Aleppo

Realitas menggelikan masyarakat beragama di Indonesia

Written By Ray Maleke on Jumat, 19 April 2013 | 04:09



Judul di atas membutuhkan beberapa penjelasan.

Yang pertama “menggelikan,” bukan karena lucu, tapi saking bodohnya realita ini tampak di depan mata dunia. Kita katakan Indonesia adalah negara Pancasila (Sila Pertama: Ketuhanan Yang Mahaesa), tapi rumah ibadah dibongkar.

Siapa yang melakukannya? Ini yang lebih mengelikan lagi: pemerintah dan masyarakat beragama lainnya.

Yang kedua “masyarakat beragama di Indonesia.” Untungnya gambaran ini bukan mewakili seluruh umat beragama di Indonesia. Tapi kenyataan bahwa ini terjadi di Indonesia perlu mengundang refleksi dari seluruh umat beragama.

Bayangkan jika anak-anak yang muncul di video ini kelak menjadi pemimpin dengan pola pemikiran “agama saya yang paling benar” dan “orang beragama lain tidak boleh ada di dekat saya” maka judul di atas tak perlu memakai nama “Indonesia,” karena pada waktu itu Indonesia sudah tidak ada lagi.

Pancasila pun akan dianggap sebagai ideologi yang gagal (jadinya yang menang adalah antara sekularisme-anti-theisme atau [mono]religio-otoritarianisme).

Karena itu, kalau kita menghargai founding parents negara Indonesia dan keanggunan filosofi Pancasila, pintar-pintarlah memilih pemimpin. Jangan terjadi sama seperti di Bekasi. Bikin malu saja...



Kasus Mrs. Young: Ketika keyakinan iman menuntut harga

Written By Menara Penjaga on Rabu, 17 April 2013 | 14:06

(Ilustrasi: politico.com)
Sementara banyak orang Kristen menderita karena gagalnya penegakan hukum, ada juga yang harus membayar harga atas nama penegakan hukum.

Seorang hakim di Hawaii, AS, memutuskan bahwa Phyllis Young melanggar hukum karena menolak menyewakan kamar di rumahnya yang ia usahakan sebagai tempat penginapan kepada dua orang wanita yang mengaku sebagai pasangan sejenis (LSN, 4/16/13).

Mrs. Young, pemilik Aloha Bed and Breakfast, diajukan ke pengadilan karena menolak menyewakan kamar kepada Ms. Cervelli dan Ms. Bufford pada tahun 2007 lalu, yang setelah ditanyakan oleh Mrs. Young, menerangkan bahwa mereka merupakan pasangan sejenis.

Dari keyakinan imannya yang menolak hubungan sejenis, Mrs. Young merasa tidak nyaman menyewakan kamar kepada pasangan ini.

Ia pun diputus hakim melanggar hukum akomodasi publik Hawaii, yang mengatakan bahwa usaha yang menyediakan penginapan untuk publik tidak boleh melakukan diskriminasi atas dasar ras, jenis kelamin, agama, preferensi seksual, atau identitas gender.

Nampak bahwa iman Mrs. Young 'tidak populer', karena iman itu ternyata di depan hukum (sekarang) 'mendiskriminasi'.

Tapi Mrs. Young tidak sendiri.


“Keyakinan iman kami masih sama, tapi kami memiliki hidup yang harus dijalani, keluarga untuk dikasihi, bisnis yang perlu ditumbuhkan, dan komunitas untuk dilayani,” keluh O'Reilly, “Bisnis kecil seperti kami tidak bisa menyaingi sumberdaya tak terbatas yang dimiliki oleh pemerintah dan ACLU”


Dua orang perangkai bunga, Barronelle Stutzman dan Kimberly Evans, termasuk seorang pengusaha roti, Victoria Childress, juga sedang menghadapi kasus yang sama. Mereka ini perlu berbesar hati karena dapat disejajarkan dengan 25.000 notaris di negara bagian Maine, AS, yang akan menghadapi tuntutan yang sama atas dasar “pelanggaran hak asasi manusia” jika menolak untuk tunduk.

Namun pertanyaan bagi kita adalah apakah ini adalah masalah “diskriminasi” atau “legitimasi.” Dan kalau kita memahami maknanya, maka iman bukan mendiskriminasi, tetapi menolak melegitimasi apa yang bertentangan dengan iman.

Penegak dan produk hukum ternyata tidak lepas dari masalah iman. Kalau begitu, apakah kita siap membayar harga? [MP]

PGI: Kronologis kriminalisasi Pdt. Palti Panjaitan

Written By Ray Maleke on Jumat, 15 Maret 2013 | 21:50

Pdt. Palti Panjaitan (foto: PGI).
INDONESIA, Jakarta (PGI.OR.ID) - Pemberitaan simpangsiur tentang kriminalisasi Pdt. Palti Panjaitan di media-media sangat merugikan terhadap korban yang dikriminalisasi. Karena itu, melalui media ini, PGI menyampaikan pemberitaan yang benar tentang kronologis kriminalisasi terhadap Pdt. Palti Panjaitan dan kronologis Kebaktian Malam Natal (24/12/2012) HKBP Filadelfia yang dihadang massa intoleran. Dengan membaca kronologis yang benar ini, masyarakat dapat menilainya sendiri.

KRONOLOGI KEBAKTIAN MALAM NATAL JEMAATHKBP FILADELFIA, 
TANGAL 24 DESEMBER 2012


Menjelang Natal tahun lalu, Jemaat HKBP Filadelfia ingin melaksanakan Kebaktian Malam Natal (24/12/2012) pada Pukul 18.00 WIB bertempat di lahan milik Jemaat HKBP Fildelfia di RT. 01 RW. 09 Dusun III, Desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kebaktian malam Natal ini adalah kegiatan keagamaan Umat Kristiani yang biasa dilakukan tiap tahun menjelang perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember.

Sekitar Pukul 18.00 WIB Jemaat HKBP Filadelfia menuju ke lokasi tersebut untuk melakukan Kebaktian Malam Natal. Namun dalam perjalanan mereka ke lokasi tersebut di Desa Jejalen Jaya, sekitar 200 meter dari lokasi tersebut, Jemaat HKBP Filadelfia  dihadang oleh massa anti toleran. Dan Polisi yang berjaga di lokasi sekitar 200 orang.

Selain penghadangan, massa anti toleran juga melakukan pelemparan kepada Jemaat HKBP Filadaelfia. Mereka melemparkan telur busuk, kotoran hewan, air jengkol yang sudah direndam, batu, tanah, dan menyiramkan air comberan. Tindakan massa anti toleran tersebut dibiarkan oleh Polisi dan Polisi melihat tindakan massa anti toleran tersebut. Pada saat terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa anti toleran terjadi pemadaman lampu di Jalan Umum.

Pada saat terjadinya berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa anti toleran, Polisi menyalahkan Jemaat HKBP Filadelfia karena mereka penyebab terjadinya kericuhan dan meminta para Jemaat HKBP Filadelfia untuk mundur.

Karena jumlah massa yang semakin banyak dan tindakan brutal dan anarkis massa yang semakin tidak terkendali dan juga tindakan Polisi yang sudah memihak kepada massa anti toleran, maka Jemaat HKBP Filadelfia mundur dan kemudian menuju Polsek Tambun untuk melakukan Kebaktian Malam Natal di halaman Polsek Tambun karena gagal  memasuki lokasi gereja di Desa Jejalenjaya.

Kemudian Jemaat HKBP Filadelfia melakukan Kebaktian tersebut dimulai Pukul 20.00 - 21.30 WIB di halaman Polsek Tambun.


KRONOLOGIS KRIMINALISASI PDT. PALTI PANJAITAN, S.Th.

Saat ini Pdt. Palti Panjaitan, Pimpinan Jemaat HKBP Filadaelfia dan Jemaatnya mengalami kriminalisasi. Hal ini sesuai dengan Laporan polisi itu bernomor: LP/1395/K/XII/2012/SPK/Restra Bekasi, pada 24 Desember 2012 atas nama pelapor Sdr. Abdul Azis, yang dilaporkan di Kepolisian Resor (Polres) Kota Bekasi. Terlapornya adalah Pdt. Palti Panjaitan, S.Th. dengan tuduhan melakukan tindak pidana penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 Jo 335 KUHP. Kejadiannya adalah pada malam Natal 24 Desember 2012 di Desa Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi, Jawa Barat.

Kira-kira seperti ini masalahnya. Masalah ini terjadi pada malam Natal 24 Desember 2012 di Desa Jejalenjaya, Tambun- Bekasi sebagaimana diuraikan dalam kronologis di atas.  Setelah jemaat HKBP Filadelfia pergi dari penghadangan massa anti toleran di Desa Jejalen Jaya, dan bersiap-siap berangkat ke Polsek Tambun, Bekasi untuk melaksanakan Kebaktian Malam Natal, kemudian Pdt. Palti Panjaitan dan beberapa jemaat HKBP Filadlefia yang masih tinggal di lokasi tersebut hendak ke Polsek Tambun Bekasi untuk mengadakan Kebaktian Malam Natal. Waktu itu, Pdt. Palti menggunakan sepeda motor dan membonceng istrinya. Pada saat akan berangkat ke Polsek, Pdt. Palti Panjaitan dihadang massa anti toleran, dan ada yang berteriak-teriak kejar, kejar. Kemudian Pdt. Palti Panjaitan turun dari sepeda motornya. Hal itu ia lakukan demi menjaga keselamatannya dan istrinya. Kemudian Abdul Azis (yang melaporkan pdt. Palti Panjaitan melakukan pemukulan) mau menyerang Pdt. Palti. kemudian Pdt. Palti menahannya dengan menggunakan 2 (dua) tangannya terbuka. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan diri dan istrinya, sebab kalau beliau tetap di sepeda motornya melaju meninggalkan lokasi akan berbahaya. Pdt. Palti hanya menahan, tidak ada mendorong, apalagi memukul Abdul Azis. Bagaimana mau memukul, sementara massa anti toleran yang merupakan gerombolan Abdul Azis begitu banyak?

Sebelum penghadangan terhadap Pdt. Palti untuk meninggalkan lokasi, Pdt. Palti dan jemaat HKBP Filadelfia diserang massa anti toleran termasuk Abdul Azis pelakunya (sebagaimana diuraikan dalam kronologis di atas), massa anti toleran mencaci maki jemaat HKBP, terus mengintimidasi, meneror, melempar dengan tanah, batu, air jengkol yang direbus, telur busuk, air comberan, kotoran hewan, menghadang jemaat HKBP Filadelfia memasuki lokasi peribadatannya untuk melaksanakan Kebaktian Malam Natal. Namun jemaat gagal memasuki lokasi tersebut untuk menngadakan Kebaktian Malam Natal.
Laporan Abdul Azis itu segera ditindaklanjuti pihak penyidik Kepolisian Resor Kota (Polres) Kota Bekasi, di mana Abdul Azis sebagai pelapor diperiksa (di BAP) tanggal 25 Desember 2012 di Polres kota Bekasi (ada infonya di VOA Islam, dan beberapa media online Islam).

Pada tanggal 28 Januari 2013, Pdt. Palti Panjaitan diperiksa (di BAP) sebagai saksi di Polres Kota Bekasi.
Kemudian dilanjutkan pemeriksaan jemaat HKBP Filadelfia, yaitu:
  1. Parsaoran Siahaan (diperiksa tanggal 4 Februari 2013)
  2. Susi Yanti Rajagukguk (diperiksa tanggal 4 Februari 2013)
  3. Emeliana Tambunan (diperiksa tanggal 5 Februari 2013)
  4. Hamonangan Manurung (diperiksa tanggal 5 Februari 2013)
  5. Maruhum Pasaribu (diperiksa tanggal 12 Feberuari 2013)
Dan salah seorang Pendeta HKBP, yaitu Pendeta Ivan Panjaitan juga diperiksa sebagai saksi di Polres Kota Bekasi pada tanggal 12 Februari 2013.

Pada 12 Maret 2013, Pdt Palti Panjaitan, S.Th mendapatkan surat panggilan dari Polres Kota Bekasi untuk diperiksa sebagai TERSANGKA di Polres Kota  Bekasi pada Rabu (20/03/2013).

PERTANYAAN:
Mengapa Pdt. Palti Panjaitan dilakukan proses hukum (dikriminalisasi), padahal Pdt. Palti Panjaitan dan Jemaat HKBP Filadelfia adalah korban kekerasan kelompok massa anti toleran pada ibadah malam Natal tanggal 24 Desember sebagaimana di uraikan dalam kronologis di atas? Pelakunya adalah massa anti toleran yang dipimpin Abdul  Azis, dan Abdul Azis juga sebagai pelakunya. Padahal seharusnya Pdt. Palti Panjaitan den Jemaatnya adalah seharusnya mendapatkan mekanis perlindungan sebagai  korban kekerasan atas nama agama, tapi realitanya fakta dimanipulasi, pelaku kekerasan masih bebas berkeliaran, tetapi korban yang diproses hukum sampai statusnya tersangka.

NB:
Penyidik perkara ini adalah Ajun Komisaris Polisi SURYAT, SH (NRP: 63010447), pemeriksa adalah Brigadir Polisi FABER (NRP: 85050285).

Sumber berita: Judianto Simanjuntak
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger